Selasa, 11 Oktober 2016

Selancar Angin, Tinggal Hitam Putih


Niat untuk meninggalkan layar berawal dari Prapon 2015. Bimbang,ragu,tujuannya apa mau stop? Apa yang mau dikerjakan? Kalau lanjut tujuannya apa? Apa yang mau dikerjakan?
Pertanyaan pertanyaan yang yang selalu terngiang.. sampai mau tidur pun terus terngiang. Sebenarnya ada satu alasan kenapa aku mau stop dari olahraga yang telah memberi pengalaman berharga ini.

Aku sudah memikirkan tujuanku dari awal untuk apa disini.. tapi ternyata tujuan awal belum tentu jadi tujuan akhir. Itu yang aku rasakan sekarang. 1 tahun aku berpikir sampai PON 2016. Dan akhirnya keputusan ini bulat pada 4 bulan sebelum PON. Apapun hasilnya PON 2016.. kalah ataupun menang. Niatku tetap stop.



Walaupun jika menang ada tunjangan dari provinsi apapun itu bentuknya. Tapi Insya Allah rezeki tidak akan tertukar. Aku tetap stop.

Berhenti selancar angin bukan berarti berhenti untuk berprestasi dan sukses. Hanya jalannya saja yang dirubah.  Prestasi itu bisa didapat dari jalan apa saja...

Alasan berhenti bukan hanya untuk fokus kuliah saja. Ada alasan lain..
Kalau aku berhenti dengan alasan fokus kuliah, itu sangat konyol, aku sudah membuktikan fokus atlet dan kuliah,buktinya aku masih lolos PON dan  kuliahku baik baik saja.. ip ku aman selama dispen. Tapi prestasiku yang menurun.. itu mungkin karena aku yang tidak pintar membagi waktu seperti kak Dedeh yang berprestasi di olahraga dan kuliah. Tapi bukan kuliah alasannya.

Banyak sekali yang bilang aku berhenti karena kalah di PON. Ah, terserah mereka. Itu salah :) karena niat bulat sudah ada 4 bulan sebelum PON.

Bisa saja aku sekedar main atau partisipan, yang penting dapet uang saku. Tapi aku tidak mau itu. Lebih baik aku berhenti saja.
Segala sesuatu itu ada masanya yang paling baik pasti ada yang mengalahkan. Dan yang mengalahakannya itu pasti ada yang mengalahkannya juga, begitu seterusnya.

Memang belum tentu jalan baru lebih baik, tapi aku..
Aku..
Sungguh gagap menjelaskan apa yang aku rasakan.. alasan untuk meninggalkan selancar angin.

aku sudah dewasa. Umurku 20 tahun. Hampir 7 tahun aku mengorbankan masa remajaku untuk selancar angin. Memang tidak lama. Ini hidupku,aku yang menjalankan, aku yang merasakan. Biarkan diri ini menjadi penentu, tinggal Allah yang meridhoi.

Sekali lagi selamat tinggal selancar angin, terimakasih pernah menyatukan aku dengan lautan, bahkan beberapa lautan di indonesia pula, membawaku merasakan ke negeri orang, membawaku mengenal karakteriatik orang, membawaku mengenal tentang semangat, kerja keras, membawaku bisa melihat idolaku,bertemu dengan orang orang hebat, membawaku mengharumkan nama negara dan provinsi, membawa air mataku menyatu dengan laut dan ombaknya. Aku tidak tahu seberapa banyak tetesan air mataku di laut sana hahaha. Banyak sekali yang kau beri selancar angin.. namun sekali lagi semua terjadi atas rencana Allah..


Silahkan komentarp

pendapat kalian bagi yang membaca :)


Rabu, 05 Oktober 2016

Wanita Di Lingkungan Olahraga


Tulisan ini aku tulis karena memang ini yang aku rasakan sesungguhnya. Dimulai dari keinginanku ingin berhijrah, menjadi wanita yang seutuhnya dan lebih syar’i. Aku mulai menanyakan tentang pakaian muslim yang benar dan lebih “wanita” pada teman temanku yang sudah lebih dulu hijrah. Atlet perempuan sehebat apapun, sekekar apapun, dia diciptakan sebagai kodratnya wanita dan melakukan apa yang baiknya wanita lakukan. Berpakaian cantik, bersolek, itu adalah perempuan, itu wajar, asal tidak berlebihan dan tahu tempat. Namun yang aku rasakan dikampusku adalah agak sulit untuk menjadi wanita yang benar benar wanita. Kebiasaan mahasiswa disini memakai sepatu joging setiap kuliah, kuliah gerak maupun teori, yang wanita hampir tidak ada yang memkai rok, paling paling celana jeans atau celana bahan. Tidak ada larangan sama sekali untuk memakai rok dikampusku, tapi mungkin hanya saja terbiasa dengan kuliah gerak sehingga lebih nyaman memakai sepatu joging kemanapun, dan pakaian yang tidak ribet. Pernah sesekali memakai pakaian feminim kekampus, banyak orang orang kampus yang menegur “mau kondangan ya? Rapi banget” padahal itu masih sangat wajar untuk pakaian wanita kekampus. Atlet atau olahragawan tidak harus selalu memakai jeans, kemeja atau kaos berkerah. Kita harus kuat sebagai olahragawan, sebagai calon guru atau calon pelatih, terlihat sporty, tapi itu dilapangan. Diluar lapangan, lakukanlah sebagaimana mestinya kodrat kita sebagai wanita-wanita yang selalu dalam lindungan Allah..

insyaAllah :)