Aku masih bingung dimana aku harus duduk, dengan keadaan
memegang piring makan seraya menengok kiri kanan dimana ada kursi yang kosong.
Tiba-tiba Dea yang terlihat dari kejauhan melambai lambaikan tangannya supaya
aku duduk disebelahnya. Aku menghampirinya lalu duduk disebelahnya. Meja kami
bundar dan dapat diisi enam orang. Ah, aku baru ngeh kalau ada Rian yang ternyata satu meja bersamaku. Rasanya
ingin pindah tapi tidak ada tempat lagi. Kami disini sedang mengikuti seminar, dimana
sekolah kami diundang untuk mengikuti workshop
ini.dimana makan malam ini membuat aku nggak nafsu makan karana dia. Dia
sesekali menatapku, tapi aku langsung mengalihkan pandanganku dan sengaja
mengajak Dea bicara. Sebenarnya aku sangat tidak biasa makan sambil bicara tapi
ini salah satu cara agar aku tidak salah tingkah. Tiba-tiba dia pergi tanpa
menghabiskan makanannya. Apa dia terganggu karena ada aku? Terganggu karena
kejadian enam bulan lalu mungkin. Dulu aku menyukainya dan dia tahu, tapi malah
membuat dia ilfeel padaku, dimatanya aku sangat mengejar-ngejar dia karena
godaan teman-teman yang selalu menjodohkan kami. Tapi akhir-akhir ini dia
sering memperhatikanku. Aku nggak tau apa yang ada dipikiran dia sampai
sekarang. Lima menit kemudian orang-orang yang satu meja bersamaku pergi karena
makanan mereka sudah habis, hanya Dea yang masih disampingku.
“Dea, aku salah nggak sih punya perasaan sama seseorang?”
“kamu nanya apa sih?
Menurut Dea pertanyaanku adalah pertanyaan yang bodoh. Ya,
memang rasa suka aku ke Rian udah sirna. Tapi aku merasa aneh, kenapa dia
menjauh? Karena aku suka sama dia? Atau karena aku jelek atau karena terlalu
ngejar dia atau karena dia udah punya pacar?. Sekarang aku duduk sendirian, Dea
sudah kembali ke kamar hotel. Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku.
“woy bengong aja”
“davi?”
“mikirin dia ya?”
“nggak!”
Wajahku langsung murung. Davi adalah salah satu yang sering
godain aku sama Rian.
“gue akan berusaha tanya gimana perasaan Rian ke lo
sebenernya”
Mataku melotot. “apa? jangannnn!!”
“kenapa? Daripada kepikiran terus”
“Davi!!!”
Davi langsung meninggalkan aku seraya tersenyum kecil. Dan
aku makin gelisah. Tapi Davi ada benarnya juga. Davi adalah mantan Dea, jujur
aja menurut aku mereka sangat cocok, tapi entah kenapa mereka putus gitu aja.
Katanya sih Dea yang selingkuh sama Gio, pacarnya yang sekarang. Padahal
kayanya Davi udah setia banget. Sampe sekarang Davi belum punya pacar lagi,
kasian juga sih dia. Dan sekarang dia sibuk menjodohkanku dengan Rian. Apalah
hidup ini, hidup dia aja belum teratur malah mau ngurusin hidup orang lain. Aku
menuju kamar hotel di nomor 234. Aku sekamar dengan Dea. Seminar akan dimulai
setengah jam lagi di aula hotel. Aku merenung memikirkan kata-kata Davi.
Bagaimana kalo ternyata pertanyaan Davi malah bikin Rian tambah ilfeel sama
aku? Aku menghembuskan nafas panjang, All
is well, semua akan baik-baik aja. Tak lama kemudian ada yang mengetuk
kamarku. Aku membukanya perlahan.. aku terdiam saat melihat seseorang
dihadapanku. Nggak mungkin, dia.. dia dihadapanku. Kami saling menatap dan
terdiam.
“siap-siap ke aula, seminarnya mau dimulai” katanya datar
lalu dia pergi. Aku melihat sekitar kamar memang ada beberapa orang yang sedang
mengetuk-ngetuk pintu kamar peserta untuk memberitahukan, tapi aku yakin
awalnya Rian nggak tahu kalau kamar yang dia ketuk adalah kamarku. Dan kenapa
bisa aku yang buka pintu? Kenapa nggak Dea aja? Aku bersiap-siap ke aula
bersama Dea.
“tadi yang ngetuk pintu siapa?” tanya Dea
“Rian” kataku pelan.
Aku menunduk yang sebenarnya nggak mau bahas pembicaraan ini. Dea tertawa
kecil. Dia pasti tahu apa yang ada
dipikiranku, lalu dia merangkulku. Aku duduk dibarisan nomor dua sedangkan Dea
dibarisan nomor tiga bersama Gio. lalu tiba tiba Davi duduk disebelahku dia
tersenyum. Aku diam saja dan langsung fokus pada narasumber. Tema kali ini
tentang cinta. Cinta itu fleksibel banget ya, cinta keluarga, cinta teman,cinta
pekerjaan atau cinta pasangan.. lalu setelah lima menit berbicara, narasumber
mendekatiku dan menyodorkan mic aku agak kaget.
“cinta itu apa sih kak?”
“cinta.. cinta itu..” aku kebingungan
“cinta adalah misteri dalam hidupku” aku menjawab apa yang
aku pernah dengar dalam bait sebuah lagu. Lalu narasumbernya tersenyum. Dan
menyuruh peserta tepuk tangan untukku. Aku tidak tahu senyumnya mentertawakan
jawabanku yang konyol atau memang jawabanku yang amazing.
“ada jawaban lagi? Tanya narasumber kepada peserta. Lalu
Davi mengacungkan tanganya.
“cinta itu fleksibel, tak ada rumusan dan tak ada batasan
dalam kasih sayang” narasumbernya tersenyum lagi lalu ia bertanya.
“Apakah ada wanita yang sangat kamu cintai selain
keluargamu?”
“tidak ada, karena cinta sudah berkhianat” jawabnya tegas.
Aku tahu itu semua sindiran untuk Dea. Aku menengok kebelakang melirik dea, dia
sedang tertunduk. Kali ini Davi dapat
banyak tepuk tangan dibanding aku. Ternyata Davi dan aku sama-sama belum move
on pada orang yang kami cinta. Narasumber melanjutkan pembicaraan, kata-katanya
begitu singkat padat dan tepat aku semakin terjatuh didalamnya. Begitu juga
Davi, matanya tajam seakan dirinya terbawa dalam tema tersebut.
Acara pertama selesai, aku menuju kamar hotel bersama Davi.
“elo tadi curhat ya sama narasumbernya?” tanya Davi
tiba-tiba.
“bukannya kamu yang curhat?”
“tapi bener sih, cinta adalah misteri.. menakutkan, apakah
cinta itu setia apa nggak”
“kamu masih sayang sama Dea ya?”
“jujur aja nggak, tapi sampe sekarang rasa kecewa gue belum
hilang”
“tapi kalo Dea ngajak balikan pasti mau kan?”
“nggak, gue adalah orang yang gak mau kasih kesempatan
kedua”
Davi memang orang yang serius, dan sebenarnya aku juga ikut
sedih saat Dea putus sama Davi. Ya, memang cinta itu misteri. Begitu yang aku
rasakan.. benar-benar menakutkan. Tapi mungkin ini anggapan orang yang sedang
galau dalam percintaan, mungkin kalau dia bahagia karena cinta, dia akan bilang
cinta itu anugrah yang paling indah.. ada orang yang cinta karena fisik, karena
uang, karena kelakuan karena ibadah.. mungkin selama ini aku pernah bertanya
tanya kenapa ada orang yang pacaran dan perempuannya cantik tapi laki-lakinya
jelek atau sebaliknya.. dan memang jawabannya cinta itu nggak harus memandang
fisik. Tapi kenapa aku suka sama Rian? Yang jelas-jelas dia menjauhiku, dia
nggak rupawan, bukan orang kaya raya, bukan bintang kelas pula. Aku nggak tahu
kenapa aku bisa sayang sama dia.. mungkin aku mencintai kesederhanaannya.
“yaudah ya, gue balik ke kamar. Sampe ketemu besok” kata
Davi pelan.
Akupun juga menuju kamarku, ketika aku membuka pintu, Dea
sudah ada dikamar dia menangis. Aku mendekatinya dan membelai rambutnya.
“kenapa?” tanyaku lembut. Dea memelukku. Tangisannya semakin
menjadi.
“kenapa sih?” tanyaku lagi
“aku merasa bersalah sama Davi” dia memulai perkataannya
dengan terbata-bata. Ya, aku menegerti karena kejadian tadi. Ia melepas
pelukannya
“sebenarnya apa yang terjadi Dea? Kamu masih sayang sama
dia?”
“aku sayang banget sama dia Saf..”
“tapi kenapa putus?”
“ini perintah ibu aku, dia ingin aku jadian sama Gio, karena
Davi nggak punya apa-apa”
“tapi kamu salah. Kenapa kamu ikutin ibu kamu?” nadaku kali
ini meninggi karena agak kesal dengan pernyataan Dea.
“kamu nggak ngerti keadaan aku!”
Oke, mungkin aku nggak ngerti keadaan Dea.. aku tidak mau
ikut campur dengan permasalahannya. Jadi selama ini Dea cinta Gio karena uang.
Aku nggak tau apakah dia benar terdesak atau apa. Tapi menurut aku dia tetap
salah.
Pagi ini acara seminar adalah games. Kami berlari-larian untuk mengambil bola dari lawan namun
suasana terlihat kekuningan aku terus berlari berusaha mengambil bola dan lama
lama terlihat blur. Kepalaku terasa sakit. Rasanya gelap, aku mencoba mencari
titik terang namun tak ada, bahkan semakin gelap.
Aku membuka mata perlahan, terlihat seperti kaca, lalu lama
lama lebih jelas dan ada seseorang dihadapanku.
“Davi?” kataku pelan
“akhirnya lo sadar juga”
“kenapa aku ada disini?”
“lo pingsan pas tadi games.”
“pingsan?” dia mengangguk. Lalu aku berpikir kenapa dia yang
menemaniku.
“kamu yang bawa aku kesini?”
“bukanlah, nggak mau gue gendong elo yang berat”
Bibirku manyun. Lalu membuang pandanganku darinya. Lalu dia
tersenyum.
“jelek lo”
“biarin”
“Rian yang bawa lo kesini, karena lo pingsan tepat dihadapan
dia” aku kaget dan rasanya hatiku membeku. Dan nggak tahu harus ngomong apa.
“kamu jangan becanda!” kataku marah. Aku tahu Davi hanya
ingin membuatku ngefly tapi dia malah
tersenyum kecil dan menggeleng-geleng.
“terserah” katanya seraya meninggalkanku. Ada apa sama aku
ya? Mungkin aku kelelahan, dari semalam aku memang agak kurang sehat. Aku
kembali kekamar hotel. Dea belum kembali, ia masih mengikuti games, sedangkan
aku disuruh istirahat oleh panitia. Aku langsung merebahkan badanku dikasur dan
merenung, memikirkan perkataan Davi. Aku melihat kelangit-langit. Perkataan
Davi selalu membuat aku berpikir, penasaran dan.. ah, sudahlah. Tiba-tiba ada
yang mengetuk pintu kamarku, mungkin Dea. Aku membuka pintu dengan semangat
kalau itu adalah Dea. Oh damn! Rian.
Dia membawa gelas dan obat. Tanpa bicara dia memberikan itu padaku. Aku
tahu pasti ini perintah panitia. Lalu
dia meninggalkanku.
“Rian..” panggilku, dia berhenti tanpa menengok
“mekasih” kataku. Lalu ia mengangguk kecil dan melanjutkan
jalannya. Aku memperhatikan langkah kakinya aku ingin memanggilnya untuk bicara
tapi rsanya mulutku terkunci. Aku memberanikan diri dan menghampirinya
“Rian, gue mau ngomong sama lo” sebenarnya aku nggak
terbiasa bicara lo, gue. Rian tak
menghiraukan
“Rian plis tunggu! Ada hal yang pengen banget gue bicarain
sama lo”
“oke sebelum makan malam kita ketemuan ditaman hotel”
jawabnya.
Aku kembali ke kamar dan langsung meminum obat. lalu aku
istirahat dan tertidur. Beberapa jam kemudian Dea membangunkanku untuk
siap-siap acara penutupan.
“tadi kan aku denger,
panitia suruh Rian buat ngaterin obat ke kamu. Dia itu mau di rekrut untuk jadi
panitia ke acara berikutnya lho” tiba-tiba Dea menyahut seraya menyisir
rambutnya yang panjang.
Aku hanya terdiam dan nggak mau bahas apa apa. Yang aku mau
hanya ingin bicara sama Rian. Aku bersiap-siap untuk ke taman. Ternyata dia
sudah menungguku. Aku menghampirinya dan jantunggku berdegup kencang, bibirku
terasa kaku. Aku duduk disampingnya. Tapi dia tak menoleh kearahku.
“maaf gue telat soalnya tadi gue..”
“lo mau ngomong apa?” dia memotong pembicaraanku. Aku
semakin kesal. Aku langsung to the point
seraya melihat wajahnya yang dingin dan tak menoleh kearahku sama sekali.
“apa yang lo tau tentang gue? Elo selalu aja menjauh. Apa
yang salah dari gue?”
“gak apa-apa” jawabnya singkat. Dan gue gak percaya jawaban
itu.
“nggak apa-apa? Sikap lo selalu ramah sama semua orang, sama
panitia, guru, Dea, Davi dan temen-temen lainnya kecuali gue!” nada bicaraku
meninggi karena selama ini pertanyaan yang ingin aku katakana akhirnya bisa aku
katakan sekarang. Dia malah terdiam lama.
“apa karena lo tau gue suka sama lo? Oh.. ternyata perasaan
ini salah? It’s oke. “
“lo nggak ngerti apa-apa!” kali ini dia menatapku.
“kalo gitu bikin gue ngerti!” kataku. Kali ini aku yang
membuang pandanganku
“lo siap sakit hati? Oke kalo lo mau denger pernyataan gue”
“gue sakit Saf, gue sakit! Lo nggak pantes mencintai gue”
Rasanya aku ingin menangis mendengar pernyataannya. Dan
merasa bersalah telah memaksa dia untuk mengatakan semuanya. Dan mungkin ini
hal yang berat buatnya. Tapi aku nggak bisa dibuat seperti ini terus.
“lo sakit apa?” tanyaku pelan dan kembali menatap wajahnya.
“gue nggak bisa bilang Saf, sorry.” Dia langsung
meninggalkanku, aku tak bisa menahan air mataku. Apa aku salah? Apa yang harus
aku lakukan. Lau Davi memanggilku dari kejauhan mengajakku untuk makan malam
bersama. Aku langsung menghapus air mataku dan berlari menghampirinya. Aku tak
nafsu makan, padahal Davi sudah membawakan makanan untukku. Sampai makanan Davi
habis akupun belum menyentuh makananku. Aku hanya terdiam memikirkan Rian.
“kenapa sih lo?”
“weyyy lo kenapa” Davi melambaikan tangannya didepan mataku.
Aku mulai sadar.
“eh.. mm nggak apa-apa”
“ada yang mau lo curhatin nggak?” sepertinya Davi tau
keadaanku sekarang. Mungkin memang kali ini dia punya solusi untuk masalahku.
Tapi kepalaku makin sakit, aku jadi tidak mood. Lalu aku mengajaknya ke aula
untuk penutupan seminar dan besok pagi kami akan pulang. Dea sedari tadi
memperhatikan aku dan Davi. Tapi sangatlah bodoh jika Dea cemburu padaku. Aku
hanya Davi hanya teman. Tidak lebih. Aku menengok kiri kanan mencari sosok
Rian, tapi aku tidak menemukannya.
“kamu tahu apa aja tentang Rian?” tanyaku pada Davi
“akhirnya lo nanya juga”
“plis, gue mohon. Apa dia punya penyakit?” tanyaku berharap
kalau Davi tahu sesuatu tentang Rian, Davi adalah tetangga Rian tapi mereka
tidak terlalu dekat. Davi sepertinya malah mengalihkan pembicaraanku untuk
menonton dance.
“tadi kamu yang suruh aku curhat kan? sekarang jawab!”
kataku keras. Aku langsung meneteskan air mata. Davi berusaha mengusap air
mataku tapi aku menghalanginya.
“kita lagi ada di aula Saf, plis ngerti” katanya pelan.
Akhirnya aku menunggu acara penutupan selesai dan Davi mengajakku untuk bicara
ketika kami mempunyai waktu coffee break
“gue harap lo
nggak kecewa, ya, ada sesuatu yang gue tahu tentang Rian”
“apa?dia sakit apa?”
“dia punya kelainan”
“kelainan? Apa sih maksudnya gue nggak ngerti”
“dia.. Gay”
Bibirku langsung membeku, mataku mulai berkaca-kaca. Dadaku
sangat terasa terpukul. Lalu Dafi mengusap punggungku.
“sebenernya gue nggak mau ceritain ini semua.. tapi gue
kasihan sama lo dan gue harap lo nggak bocorin ini semua ke siapapun. Kasihan
Rian.”
“ waktu masih SMP, dia itu udah ketahuan sama keluarganya
kalau dia itu punya kelainan, sampai ayahnya hampir aja ngusir dia. Dia pernah
cerita sama gue kalau dia itu berusaha mencintai wanita tapi sampe sekarang
belum bisa, makanya dia nggak mau ada cewek yang terlarut mencintai dia, karena
dia merasa dia nggak pantes untuk dicintai apalagi sama cewek sebaik lo Safa..”
“kamu nggak takut
sama dia?”
“ngapain gue takut? Dia itu Cuma cinta sama temen kecilnya
namanya Fero. Sampe sekarang. Dia pernah bilang ke gue kalau sebenarnya dia
benci sama keadaannya seperti ini, dia mau hidup normal tapi nggak bisa”
“terus hubungan dia sama keluarganya gimana?”
“dia seperti orang asing Saf, kadang gue kasihan sama dia.
Ayahnya udah bawa dia ke therapy mana aja, tapi tetep belom bisa” Aku langsung
memeluk Davi.. air mataku mengalir lagi.
“aku sayang sama Rian, Dav.. aku harus gimana?” kataku
terbata-bata.
“iya, gue ngerti rasanya mencintai seseorang tapi nggak
sesuai dengan harapan kita”
Pagi hari ini kami bersiap untuk pulang karena acara sudah
selesai. Aku mencoba memahami Rian dan mencoba melupakannya. Tentunya hari ini
aku sudah merasa lega. Aku nggak boleh egois aku harus tau keadaan. Kami berkumpul untuk menunggu bis datang lalu
aku mendekati Rian. Seperti biasa aku selalu bicara lo, gue dengannya.
“Rian.. gue udah tahu semua tentang lo”
“terus lo benci sama gue?”
“gue harap lo menjadi yang terbaik dan ditunjukkan jalan
yang benar”
“mekasih Saf.. Saf, gue mau pamit sama lo, lusa gue akan
pindah ke Bandung ketempat kakek nenek gue. Ini saran orang tua gue supaya gue
melupakan Fero. Dan ini untuk lo” dia memberiku gantungan kunci hello kitty aku menerimanya dan tersenyum.
“thanks. Semoga
sukses”




