Senin, 16 Juni 2014

cerpen Misteri Cinta


Aku masih bingung dimana aku harus duduk, dengan keadaan memegang piring makan seraya menengok kiri kanan dimana ada kursi yang kosong. Tiba-tiba Dea yang terlihat dari kejauhan melambai lambaikan tangannya supaya aku duduk disebelahnya. Aku menghampirinya lalu duduk disebelahnya. Meja kami bundar dan dapat diisi enam orang. Ah, aku baru ngeh kalau ada Rian yang ternyata satu meja bersamaku. Rasanya ingin pindah tapi tidak ada tempat lagi. Kami disini sedang mengikuti seminar, dimana sekolah kami diundang untuk mengikuti workshop ini.dimana makan malam ini membuat aku nggak nafsu makan karana dia. Dia sesekali menatapku, tapi aku langsung mengalihkan pandanganku dan sengaja mengajak Dea bicara. Sebenarnya aku sangat tidak biasa makan sambil bicara tapi ini salah satu cara agar aku tidak salah tingkah. Tiba-tiba dia pergi tanpa menghabiskan makanannya. Apa dia terganggu karena ada aku? Terganggu karena kejadian enam bulan lalu mungkin. Dulu aku menyukainya dan dia tahu, tapi malah membuat dia ilfeel padaku, dimatanya aku sangat mengejar-ngejar dia karena godaan teman-teman yang selalu menjodohkan kami. Tapi akhir-akhir ini dia sering memperhatikanku. Aku nggak tau apa yang ada dipikiran dia sampai sekarang. Lima menit kemudian orang-orang yang satu meja bersamaku pergi karena makanan mereka sudah habis, hanya Dea yang masih disampingku.
“Dea, aku salah nggak sih punya perasaan sama seseorang?”
“kamu nanya apa sih?
Menurut Dea pertanyaanku adalah pertanyaan yang bodoh. Ya, memang rasa suka aku ke Rian udah sirna. Tapi aku merasa aneh, kenapa dia menjauh? Karena aku suka sama dia? Atau karena aku jelek atau karena terlalu ngejar dia atau karena dia udah punya pacar?. Sekarang aku duduk sendirian, Dea sudah kembali ke kamar hotel. Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku.
“woy bengong aja”
“davi?”
“mikirin dia ya?”
“nggak!”
Wajahku langsung murung. Davi adalah salah satu yang sering godain aku sama Rian.
“gue akan berusaha tanya gimana perasaan Rian ke lo sebenernya”
Mataku melotot. “apa? jangannnn!!”
“kenapa? Daripada kepikiran terus”
“Davi!!!”
Davi langsung meninggalkan aku seraya tersenyum kecil. Dan aku makin gelisah. Tapi Davi ada benarnya juga. Davi adalah mantan Dea, jujur aja menurut aku mereka sangat cocok, tapi entah kenapa mereka putus gitu aja. Katanya sih Dea yang selingkuh sama Gio, pacarnya yang sekarang. Padahal kayanya Davi udah setia banget. Sampe sekarang Davi belum punya pacar lagi, kasian juga sih dia. Dan sekarang dia sibuk menjodohkanku dengan Rian. Apalah hidup ini, hidup dia aja belum teratur malah mau ngurusin hidup orang lain. Aku menuju kamar hotel di nomor 234. Aku sekamar dengan Dea. Seminar akan dimulai setengah jam lagi di aula hotel. Aku merenung memikirkan kata-kata Davi. Bagaimana kalo ternyata pertanyaan Davi malah bikin Rian tambah ilfeel sama aku? Aku menghembuskan nafas panjang, All is well, semua akan baik-baik aja. Tak lama kemudian ada yang mengetuk kamarku. Aku membukanya perlahan.. aku terdiam saat melihat seseorang dihadapanku. Nggak mungkin, dia.. dia dihadapanku. Kami saling menatap dan terdiam.
“siap-siap ke aula, seminarnya mau dimulai” katanya datar lalu dia pergi. Aku melihat sekitar kamar memang ada beberapa orang yang sedang mengetuk-ngetuk pintu kamar peserta untuk memberitahukan, tapi aku yakin awalnya Rian nggak tahu kalau kamar yang dia ketuk adalah kamarku. Dan kenapa bisa aku yang buka pintu? Kenapa nggak Dea aja? Aku bersiap-siap ke aula bersama Dea.
“tadi yang ngetuk pintu siapa?” tanya Dea
“Rian”  kataku pelan. Aku menunduk yang sebenarnya nggak mau bahas pembicaraan ini. Dea tertawa kecil. Dia  pasti tahu apa yang ada dipikiranku, lalu dia merangkulku. Aku duduk dibarisan nomor dua sedangkan Dea dibarisan nomor tiga bersama Gio. lalu tiba tiba Davi duduk disebelahku dia tersenyum. Aku diam saja dan langsung fokus pada narasumber. Tema kali ini tentang cinta. Cinta itu fleksibel banget ya, cinta keluarga, cinta teman,cinta pekerjaan atau cinta pasangan.. lalu setelah lima menit berbicara, narasumber mendekatiku dan menyodorkan mic aku agak kaget.
“cinta itu apa sih kak?”
“cinta.. cinta itu..” aku kebingungan
“cinta adalah misteri dalam hidupku” aku menjawab apa yang aku pernah dengar dalam bait sebuah lagu. Lalu narasumbernya tersenyum. Dan menyuruh peserta tepuk tangan untukku. Aku tidak tahu senyumnya mentertawakan jawabanku yang konyol atau memang jawabanku yang amazing.
“ada jawaban lagi? Tanya narasumber kepada peserta. Lalu Davi mengacungkan tanganya.
“cinta itu fleksibel, tak ada rumusan dan tak ada batasan dalam kasih sayang” narasumbernya tersenyum lagi lalu ia bertanya.
“Apakah ada wanita yang sangat kamu cintai selain keluargamu?”
“tidak ada, karena cinta sudah berkhianat” jawabnya tegas. Aku tahu itu semua sindiran untuk Dea. Aku menengok kebelakang melirik dea, dia sedang tertunduk.  Kali ini Davi dapat banyak tepuk tangan dibanding aku. Ternyata Davi dan aku sama-sama belum move on pada orang yang kami cinta. Narasumber melanjutkan pembicaraan, kata-katanya begitu singkat padat dan tepat aku semakin terjatuh didalamnya. Begitu juga Davi, matanya tajam seakan dirinya terbawa dalam tema tersebut.
Acara pertama selesai, aku menuju kamar hotel bersama Davi.
“elo tadi curhat ya sama narasumbernya?” tanya Davi tiba-tiba.
“bukannya kamu yang curhat?”
“tapi bener sih, cinta adalah misteri.. menakutkan, apakah cinta itu setia apa nggak”
“kamu masih sayang sama Dea ya?”
“jujur aja nggak, tapi sampe sekarang rasa kecewa gue belum hilang”
“tapi kalo Dea ngajak balikan pasti mau kan?”
“nggak, gue adalah orang yang gak mau kasih kesempatan kedua”
Davi memang orang yang serius, dan sebenarnya aku juga ikut sedih saat Dea putus sama Davi. Ya, memang cinta itu misteri. Begitu yang aku rasakan.. benar-benar menakutkan. Tapi mungkin ini anggapan orang yang sedang galau dalam percintaan, mungkin kalau dia bahagia karena cinta, dia akan bilang cinta itu anugrah yang paling indah.. ada orang yang cinta karena fisik, karena uang, karena kelakuan karena ibadah.. mungkin selama ini aku pernah bertanya tanya kenapa ada orang yang pacaran dan perempuannya cantik tapi laki-lakinya jelek atau sebaliknya.. dan memang jawabannya cinta itu nggak harus memandang fisik. Tapi kenapa aku suka sama Rian? Yang jelas-jelas dia menjauhiku, dia nggak rupawan, bukan orang kaya raya, bukan bintang kelas pula. Aku nggak tahu kenapa aku bisa sayang sama dia.. mungkin aku mencintai kesederhanaannya.
“yaudah ya, gue balik ke kamar. Sampe ketemu besok” kata Davi pelan.
Akupun juga menuju kamarku, ketika aku membuka pintu, Dea sudah ada dikamar dia menangis. Aku mendekatinya dan membelai rambutnya.
“kenapa?” tanyaku lembut. Dea memelukku. Tangisannya semakin menjadi.
“kenapa sih?” tanyaku lagi
“aku merasa bersalah sama Davi” dia memulai perkataannya dengan terbata-bata. Ya, aku menegerti karena kejadian tadi. Ia melepas pelukannya
“sebenarnya apa yang terjadi Dea? Kamu masih sayang sama dia?”
“aku sayang banget sama dia Saf..”
“tapi kenapa putus?”
“ini perintah ibu aku, dia ingin aku jadian sama Gio, karena Davi nggak punya apa-apa”
“tapi kamu salah. Kenapa kamu ikutin ibu kamu?” nadaku kali ini meninggi karena agak kesal dengan pernyataan Dea.
“kamu nggak ngerti keadaan aku!”
Oke, mungkin aku nggak ngerti keadaan Dea.. aku tidak mau ikut campur dengan permasalahannya. Jadi selama ini Dea cinta Gio karena uang. Aku nggak tau apakah dia benar terdesak atau apa. Tapi menurut aku dia tetap salah.
Pagi ini acara seminar adalah games. Kami berlari-larian untuk mengambil bola dari lawan namun suasana terlihat kekuningan aku terus berlari berusaha mengambil bola dan lama lama terlihat blur. Kepalaku terasa sakit. Rasanya gelap, aku mencoba mencari titik terang namun tak ada, bahkan semakin gelap.
Aku membuka mata perlahan, terlihat seperti kaca, lalu lama lama lebih jelas dan ada seseorang dihadapanku.
“Davi?” kataku pelan
“akhirnya lo sadar juga”
“kenapa aku ada disini?”
“lo pingsan pas tadi games.”
“pingsan?” dia mengangguk. Lalu aku berpikir kenapa dia yang menemaniku.
“kamu yang bawa aku kesini?”
“bukanlah, nggak mau gue gendong elo yang berat”
Bibirku manyun. Lalu membuang pandanganku darinya. Lalu dia tersenyum.
“jelek lo”
“biarin”
“Rian yang bawa lo kesini, karena lo pingsan tepat dihadapan dia” aku kaget dan rasanya hatiku membeku. Dan nggak tahu harus ngomong apa.
“kamu jangan becanda!” kataku marah. Aku tahu Davi hanya ingin membuatku ngefly tapi dia malah tersenyum kecil dan menggeleng-geleng.
“terserah” katanya seraya meninggalkanku. Ada apa sama aku ya? Mungkin aku kelelahan, dari semalam aku memang agak kurang sehat. Aku kembali kekamar hotel. Dea belum kembali, ia masih mengikuti games, sedangkan aku disuruh istirahat oleh panitia. Aku langsung merebahkan badanku dikasur dan merenung, memikirkan perkataan Davi. Aku melihat kelangit-langit. Perkataan Davi selalu membuat aku berpikir, penasaran dan.. ah, sudahlah. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku, mungkin Dea. Aku membuka pintu dengan semangat kalau itu adalah Dea. Oh damn! Rian. Dia membawa gelas dan obat. Tanpa bicara dia memberikan itu padaku. Aku tahu  pasti ini perintah panitia. Lalu dia meninggalkanku.
“Rian..” panggilku, dia berhenti tanpa menengok
“mekasih” kataku. Lalu ia mengangguk kecil dan melanjutkan jalannya. Aku memperhatikan langkah kakinya aku ingin memanggilnya untuk bicara tapi rsanya mulutku terkunci. Aku memberanikan diri dan menghampirinya
“Rian, gue mau ngomong sama lo” sebenarnya aku nggak terbiasa bicara lo, gue. Rian tak menghiraukan
“Rian plis tunggu! Ada hal yang pengen banget gue bicarain sama lo”
“oke sebelum makan malam kita ketemuan ditaman hotel” jawabnya.
Aku kembali ke kamar dan langsung meminum obat. lalu aku istirahat dan tertidur. Beberapa jam kemudian Dea membangunkanku untuk siap-siap acara penutupan.
 “tadi kan aku denger, panitia suruh Rian buat ngaterin obat ke kamu. Dia itu mau di rekrut untuk jadi panitia ke acara berikutnya lho” tiba-tiba Dea menyahut seraya menyisir rambutnya yang panjang.
Aku hanya terdiam dan nggak mau bahas apa apa. Yang aku mau hanya ingin bicara sama Rian. Aku bersiap-siap untuk ke taman. Ternyata dia sudah menungguku. Aku menghampirinya dan jantunggku berdegup kencang, bibirku terasa kaku. Aku duduk disampingnya. Tapi dia tak menoleh kearahku.
“maaf gue telat soalnya tadi gue..”
“lo mau ngomong apa?” dia memotong pembicaraanku. Aku semakin kesal. Aku langsung to the point seraya melihat wajahnya yang dingin dan tak menoleh kearahku sama sekali.
“apa yang lo tau tentang gue? Elo selalu aja menjauh. Apa yang salah dari gue?”
“gak apa-apa” jawabnya singkat. Dan gue gak percaya jawaban itu.
“nggak apa-apa? Sikap lo selalu ramah sama semua orang, sama panitia, guru, Dea, Davi dan temen-temen lainnya kecuali gue!” nada bicaraku meninggi karena selama ini pertanyaan yang ingin aku katakana akhirnya bisa aku katakan sekarang. Dia malah terdiam lama.
“apa karena lo tau gue suka sama lo? Oh.. ternyata perasaan ini salah? It’s oke. “
“lo nggak ngerti apa-apa!” kali ini dia menatapku.
“kalo gitu bikin gue ngerti!” kataku. Kali ini aku yang membuang pandanganku
“lo siap sakit hati? Oke kalo lo mau denger pernyataan gue”
“gue sakit Saf, gue sakit! Lo nggak pantes mencintai gue”
Rasanya aku ingin menangis mendengar pernyataannya. Dan merasa bersalah telah memaksa dia untuk mengatakan semuanya. Dan mungkin ini hal yang berat buatnya. Tapi aku nggak bisa dibuat seperti ini terus.
“lo sakit apa?” tanyaku pelan dan kembali menatap wajahnya.
“gue nggak bisa bilang Saf, sorry.” Dia langsung meninggalkanku, aku tak bisa menahan air mataku. Apa aku salah? Apa yang harus aku lakukan. Lau Davi memanggilku dari kejauhan mengajakku untuk makan malam bersama. Aku langsung menghapus air mataku dan berlari menghampirinya. Aku tak nafsu makan, padahal Davi sudah membawakan makanan untukku. Sampai makanan Davi habis akupun belum menyentuh makananku. Aku hanya terdiam memikirkan Rian.
“kenapa sih lo?”
“weyyy lo kenapa” Davi melambaikan tangannya didepan mataku. Aku mulai sadar.
“eh.. mm nggak apa-apa”
“ada yang mau lo curhatin nggak?” sepertinya Davi tau keadaanku sekarang. Mungkin memang kali ini dia punya solusi untuk masalahku. Tapi kepalaku makin sakit, aku jadi tidak mood. Lalu aku mengajaknya ke aula untuk penutupan seminar dan besok pagi kami akan pulang. Dea sedari tadi memperhatikan aku dan Davi. Tapi sangatlah bodoh jika Dea cemburu padaku. Aku hanya Davi hanya teman. Tidak lebih. Aku menengok kiri kanan mencari sosok Rian, tapi aku tidak menemukannya.
“kamu tahu apa aja tentang Rian?” tanyaku pada Davi
“akhirnya lo nanya juga”
“plis, gue mohon. Apa dia punya penyakit?” tanyaku berharap kalau Davi tahu sesuatu tentang Rian, Davi adalah tetangga Rian tapi mereka tidak terlalu dekat. Davi sepertinya malah mengalihkan pembicaraanku untuk menonton dance.
“tadi kamu yang suruh aku curhat kan? sekarang jawab!” kataku keras. Aku langsung meneteskan air mata. Davi berusaha mengusap air mataku tapi aku menghalanginya.
“kita lagi ada di aula Saf, plis ngerti” katanya pelan. Akhirnya aku menunggu acara penutupan selesai dan Davi mengajakku untuk bicara ketika kami mempunyai waktu coffee break
gue harap lo nggak kecewa, ya, ada sesuatu yang gue tahu tentang Rian”
“apa?dia sakit apa?”
“dia punya kelainan”
“kelainan? Apa sih maksudnya gue nggak ngerti”
“dia.. Gay”
Bibirku langsung membeku, mataku mulai berkaca-kaca. Dadaku sangat terasa terpukul. Lalu Dafi mengusap punggungku.
“sebenernya gue nggak mau ceritain ini semua.. tapi gue kasihan sama lo dan gue harap lo nggak bocorin ini semua ke siapapun. Kasihan Rian.”
“ waktu masih SMP, dia itu udah ketahuan sama keluarganya kalau dia itu punya kelainan, sampai ayahnya hampir aja ngusir dia. Dia pernah cerita sama gue kalau dia itu berusaha mencintai wanita tapi sampe sekarang belum bisa, makanya dia nggak mau ada cewek yang terlarut mencintai dia, karena dia merasa dia nggak pantes untuk dicintai apalagi sama cewek sebaik lo Safa..”
kamu nggak takut sama dia?”
“ngapain gue takut? Dia itu Cuma cinta sama temen kecilnya namanya Fero. Sampe sekarang. Dia pernah bilang ke gue kalau sebenarnya dia benci sama keadaannya seperti ini, dia mau hidup normal tapi nggak bisa”
“terus hubungan dia sama keluarganya gimana?”
“dia seperti orang asing Saf, kadang gue kasihan sama dia. Ayahnya udah bawa dia ke therapy mana aja, tapi tetep belom bisa” Aku langsung memeluk Davi.. air mataku mengalir lagi.
“aku sayang sama Rian, Dav.. aku harus gimana?” kataku terbata-bata.
“iya, gue ngerti rasanya mencintai seseorang tapi nggak sesuai dengan harapan kita”

Pagi hari ini kami bersiap untuk pulang karena acara sudah selesai. Aku mencoba memahami Rian dan mencoba melupakannya. Tentunya hari ini aku sudah merasa lega. Aku nggak boleh egois aku harus tau keadaan.  Kami berkumpul untuk menunggu bis datang lalu aku mendekati Rian. Seperti biasa aku selalu bicara lo, gue dengannya.
“Rian.. gue udah tahu semua tentang lo”
“terus lo benci sama gue?”
“gue harap lo menjadi yang terbaik dan ditunjukkan jalan yang benar”
“mekasih Saf.. Saf, gue mau pamit sama lo, lusa gue akan pindah ke Bandung ketempat kakek nenek gue. Ini saran orang tua gue supaya gue melupakan Fero. Dan ini untuk lo” dia memberiku gantungan kunci hello kitty aku menerimanya dan tersenyum.
thanks. Semoga sukses”

Kamis, 22 Mei 2014

Selancar angin membuka mata karena Doa. Gimana bisa?

amelyaputri932.blogspot.com
Selancar Angin membuka mata karena Doa. Gimana bisa?

Pasti kalian sering banget kan denger yang namanya doa,cita-cita,impian,harapan dan masih banyak lain sejenisnya. Tapi kalian percaya nggak sih sama itu semua? Oke percaya gak percaya saya akan buktiin.
Kenalin dulu nama saya Amelya Putri Utami. Biasa dipanggil Puput atau Amel. Disini saya akan cerita tentang pengalaman, tentang doa, perkataan,harapan,impian dan sejenisnyalah.. oke cekidot
Disekolah, saya adalah anak yang biasa-biasa aja, terutama di SD, peringkat saya dari kelas satu sampe tiga selalu duapuluhan, bahkan pernah 33 dari 40 murid. Bego banget yah? Hehe. Pas kelas empat saya pindah sekolah karena ngikutin ortu, otomatis saya pindah sekolah juga kesekolah yang biasa-biasa aja, tapi sekolah saya yg sekarang ini adalah sekolah turun temurun keluarga. Mulai dari nyokap,om,tante,sepupu.. disini saya gak tau kenapa lebih semangat belajar. Ya lebih mendingan lah dari yang dulu. Di SD ini mulailah saya menemukan bakat saya, ya kalau lagi ekskul renang itu pasti selalu dijadiin contoh, digabung sama kakak2 yang pinter renang, paling diperatiin.. ya karena mungkin dikelas ceweknya suma saya aja yang bisa. Akhirnya guru saya yang super pintar itu kenal sama saya gara2 saya jago renang. Saya baru nemuin guru yang super bisa, super serius, super kocak di SD ini.. umurnya udah tua tapi.. cara ngajarnya itu. Amazing banget.cepet ngerti.  Dia tegas banget, saking tegasnya ada anak baru yang baru seminggu masuk sekolah eh keluar lagi gara gara takut sama guru itu. Hahaha J oke langsung dipercepat aja, waktu SMP saya mau berubah, saya harus jadi lebih baik, saya harus rajin belajar.masa jadi orang bego terus. Dan akhirnya apa? Saya selalu dapet peringkat dua di kelas tujuh. Ini sudah saya buktikan, kerja keras akan membuahkan hasil sesuai dengan apa yang kita kerjakan. Ini real! Sampai akhirnya dikelas delapan saya itu dapet kelas unggulan, muridnya juga unggul2. Tapi mungkin karena saya merasa cepat puas, saya jadi nggak mau belajar, jadi keasikkan main sendiri sampai akhirnya nilai saya jeblok lagi.. tapi diolahraga? Saya tetap nomor satu dikelas. Saya capek jadi orang paling bego dikelas,, ketakutan kalau guru masuk. Dulu nggak gitu.. oh ya, saya punya idola atlet bulutangkis namanya Lilyana Natsir. Yang nggak tau bisa liat di google. Dia lulusan SD tapi bisa berprestasi dan jadi atlet Indonesia terbaik.. siapa yang gak ngiler tuh, sponsor dimana-mana, keliling dunia, dihargai orang lain,, hanya dengan lulusan SD! Ya, itulah jalan Tuhan. Sampai saya berfikiran saya mau jadi Atlet. Bisa keliling dunia, dan dikenal orang. Waktu itu abis ekskul renang saya lagi jalan sama temen-temen saya dan berdiri didepan SMP/SMA Ragunan. Sekolah khusus atlet itu lho, yang sudah mengeluarkan banyak atlet hebat seperti susi susanti, yayuk basuki dan yang sekarang ini itu ada beberapa lulusan ragunan yang jadi Timnas U-19. Ravi murdianto dkk contohnya. saat itu saya lewat dan ngeliatin gedung sekolah itu sambil berkata “gua pengen banget nih sekolah disini, abisnya gua kalo disekolah bego sih” beberapa bulan yang lalu sebelum berkata seperti itu, saya kenalanan sama Syadine, dia atlet bulutangkis yang pindah cabang ke selancar angin. Dan beberapa bulan kemudian juga saya potong rambut pendek ngikutin idola saya Lilyana Natsir itu, sampe pernah dijambak sama guru kesenian saya “kamu tuh cewek, potongan udah kaya laki-laki!” its oke.. semua ada efek sampingnya. Tante gue bilang. “put, ada yang nyari bibit tuh buat ke Pon 2012. Mau nggak? Atlet selancar.” Jalan saya tuh, dan akhirnya saya coba ke tempat latihan itu lalu ketemu Syadine. Saya dikasih kesempatan satu bulan latihan dan keyakinan mau lanjut apa nggak diselancar.
Teman.. memang betul, dilangit masih ada langit, jadi jangan pernah sombong dalam keadaan apapun! Fisik saya disekolah paling oke, tapi di tempat latihan ini fisik saya Nol besar. Hampir-hampir saya mau mati hanyut ditengah laut. Dann…. Banyak problem selama saya latihan disana. Mulai dari karakter orang-orangnya, pengurusannya.. semua sudah terbaca. Mulailah saya tertekan latihan disana, apa-apa selalu salah, saya jadi kaya orang gila yang gak punya otak, padahal diluar sana saya sama sekali nggak merasa begitu. Oke ini karena tertekan.Saya mau keluar, tapi saya inget keluarga saya, mereka membutuhkan saya. Saya adalah sulung yang harus bisa berhasil. Tiga bulan latihan saya ikut kejurnas. Sangat amazing bukan? Anak baru sudah ikut kejurnas. Ini adalah rejeki besar. Pelatih saya bilang belajar itu lebih capek daripada latihan, ya itu memang benar. Kita TC selama sebulan dimana posisi saya masih belajar. Setiap latihan dan setiap hari saya selalu nangis mau pulang. Ternyata semua nggak semudah apa yang kita banyangkan. Atlet yang bisa keliling dunia, dapet banyak sponsor dan dihargai orang itu nggak mudah. Dan sampai akhirnya saya ikut pertandingan pertama kejurnas di Ambon. Hasilnya saya paling belakang. Paling buncit. Syadine dapet emas, dia memang hebat. Diambon saya gak Cuma-Cuma dapet fasilitas, dikerjain dulu lah, disuruh-suruh, ya maklum inilah kebiasaan senior pada juniornya. Inget Man,,  penjajahan diatas dunia harus dihapuskan. Masa gak ngerti juga. Bukan hanya disini aja gue nemu senior-senior yang seenak jidat, tapi ditempat lain juga sama, mereka Egois, merasa lebih pintar dari kita, kalau urusannya masalah latihan dan wajar ya itu bagus, tapi kadang saya suka nemuin yang agak diluar latihan.Cuma ada beberapa senior yang ngertiin saya. Setelah pulang dari kejurnas itu saya pindah sekolah ke ragunan. Senang? Saya sangat senang karena doa saya terkabul. Sedih? Karena disini saya belum punya prestasi apa apa, saya malu. Jadi beberapa bulan lalu saya berucap pengen sekolah di ragunan dan memang terjadi. So, jangan pernah berucap sembarangan, apalagi yang jelek2. Perkataan adalah doa itu benar, sangat benar. Kalau berucap yang positive pasti akan positive juga, begitu sebaliknya. Lalu seminggu kemudian saya bertemu teman SMP saya yang dulu namanya Iqomah, dia adalah atlet panahan, terus kita ngobrol
“target lu apa qo?”
“kejurnas. Lu apa?”
“PON”
“kalo PON gue masih ketinggian, bisa ikut Popnas aja udah Alhamdulillah.”
 Saya berpikir dengan mudahnya saya ikut kejurnas tapi orang orang disekitar saya susah banget.. diragunan saya dikenal salah satu murid yang akademiknya bagus. Padahal kalo disekolah luar nggak ada apa apanya. Sampai 2011 saya belum ada prestasi, sempetlah ibaratnya ada jual beli atlet gitu. Alasannya di provinsi tersebut belum punya atlet yang kelas saya. Kalau ditempat yg saya latihan itu kan sudah ada Syadine,, Nah pas saya bertanding membawa provinsi yang baru, saya masih kalah juga, mungkin karena faktor tertekan. Sampai saya kabur dari rumah dua kali, pengen berenti tapi ortu nggak setuju.ini kan saya yang rasain, saya nggak bisa, tapi ortu juga kan pengen yang terbaik buat anaknya, saya jadi serbasalah.  Tapi kaburnya juga kerumah sodara saya. Hehe. sepupu saya sampe ikutan nangis, “udah si, lu jangan kabur-kaburan terus” saya termasuk orang yang paling mengingat moment, dimana saya dikucilkan, dibanggain, saat senang maupun sedih saya ingat karena saya selalu tulis di buku harian saya dan saya selalu tulis tanggalnya. Saya udah capek hati dan batin dengan problem ini. Masalahnya saya nggak bisa ceritainlah takut buka Aib yah. Dan beberapa bulan kemudian provinsi saya yang baru itu bagi-bagi jatah buat pembukaan pelatda. Nah anehnya saya nggak dapet, sedangkan senior saya dapet. Ternyata mereka nggak mengakui saya lagi sebagai atletnya. Katanya belum ada prestasi. Oke gapapa. Kan sekarang yah, gak tau yang akan datang gimana. Sedih? Pasti sedih banget. Akhirnya saya dialihkan ke provinsi terbaru lagi, mereka juga belum punya atlet dikelas yang saya mainkan. Terus ikut kejurnas dijakarta. Disini medali pertama saya, perunggu. Ya lumayan lah.. sampai akhirnya ada Prapon pada bulan Desember di balongan Jawa Barat. Anginya super kencang, ini memang makanan Syadine si raja emas.
Kalo diceritain perharinya mungkin tangan saya bisa keriting kali ya. Dan disini saya dapet perak. Dapet temen-temen baru di provinsi terbaru ini, banyak banget perbedaannya. Orang2 nya, pengurusnya.. tapi ada juga kekurangannya, yaitu susah buat dapet peralatan.dapet perak Alhamdulillah naik ya.. diprapon ini adalah perjuangan yang gak akan saya lupain terlebih angin yang kencang dan peralatan yang seadanya. Dan disinilah saya dapet uang bonus dari hasil pertandingan. Sebelum2 nya pernah ikut kejurnas dan kejuaraan club tapi gak pernah dikasih uang. Lumayanlah uangnya buat jajan. Terus saya ada problem lagi sama tempat latihan dimana saya dibesarkan. Akhirnya saya memutuskan untuk benar2 bermain untuk provinsi terbaru itu.saya memutuskan pilihan ini juga sampe beberapa hari gak mau keluar rumah, sampe bener2 mateng, karena galau keputusan yang saya pilih benar atau salah. Tapi balik lagi tujuan saya dari awal, saya akhirnya pilih jalan dimana yang mendekati tujuan saya.  Saya dibilang kacang lupa kulitnya, its oke, tapi saya nggak bermaksud seperti itu. Saya tetap mengakui yang membuat saya sperti ini adalah mereka yang saya cintai dan mereka yang saya benci..mereka hanya perantara, semua adalah tangan Allah. Bukan saya aja yang keluar, senior2 saya juga banyak yang keluar dari sana.mereka yang membuat saya keluar. Ini memang keputusan yang besar, hidup atau mati. Hidup adalah pilihan, saya percaya tuhan punya rencana yang indah dari apa yang saya pikirkan. Sampai akhirnya januari saya suruh mengisi formulir Bank. dan bulan februari 2012 saya menerima uang saku pelatda Pon 2012. Disinilah saya mulai merasakan kehidupan atlet yang sesungguhnya, yang belum pernah saya rasakan, akhirnya saya rasakan. Nikmatnya membanting tulang sendiri dan menikmati hasilnya bersama keluarga.kalau bertanding juga dapet uang transport, kalau menang juga dapet bonus lagi. Sungguh indah teman… ada kejurnas lagi dan saya kembali dapet perunggu, dan kembali dapet perak setelah suasana sudah mulai membaik dari masalah perpindahan itu. Oh iya waktu piala gubernur 2012, ini adalah pertandingan dimana kemampuan saya harus dikeluarkan sebaik baiknya, dimana pertamakali merasakan lima race dalam satu hari, yang biasanya Cuma tiga race. Ditambah angin yang cukup kencang kadang kecil, arusnya pindah pindah. Dan layar saya yang robek. Saya berharap agar layarnya nggak robek besar, kalo robek saya gak bisa bertanding. Saya berdoa pada Allah supaya layar saya baik-baik aja. Saya menemukan banyak keajaiban dipertandingan ini. Pertama, layar saya robek kecil lalu berlayar lima race dengan angin kencang tapi robeknya nggak makin parah. Dua, start ke satu dua dan tiga saya ditabrak sampe jatoh tapi saya tetap bisa ngejar lawan. Tiga, saya nggak minum-minum, alhamdulilah nggak mati. Hehe sampi akhirnya dipertandingan ini dapet perak dan yang mengalungkan medalinya adalah gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Yang dapet emas siapa? Alaways my friend Syadine.saya? perak. Mulai dari sini saya agak renggang sama dia sampe main bales2an status di facebook. Kacang lupa kulitnya katanya.saya akan buktiin kalau keputusan saya benar. Saya nggak mau gila hanya karena orang orang yang serakah dan egois seperti mereka.  Banyak pengalaman setelah saya pindah ke provinsi yang terbaru, saya dikirim Character Building di Grup satu kopassus. Langsung dilatih sama kopassusnya, kalo diceritain lebih detil, mungkin baru selesai tahun depan kayaknya, karena bnyak bgt kejadian kejadian yang seru sekaligus yang gak seru juga sih, haha.dapet temen baru para atlet2 dari cabang lain. Sangat mahal pengalaman itu teman.. terus ikut pelatihan di Batam bersama ISAF. Isaf itu organisasi terbesarnya olahraga layar dan selancar gitu, latihan selama seminggu bagaimana menjadi atlet dan pelatih yang baik, pesertanya dari Indonesia, Thailand, Filipin, guam, Myanmar, Vietnam dan Malaysia. Namabah temen lagi kan? pelatihnya? Dari spanyol dan Portugal. Apalagi yang ngelatih aku itu dia adalah mantan atlet olimpiade. Keren kan? walau hanya masuk delapan besar waktu itu katanya. Dan banyak ilmu yang sebelumnya belum pernah aku dapet. Sampe punya sahabat namanya Alaiza dari Filipina. Anaknya asik, seru dan walaupun dia tau saya gak bisa bahasa inggris, tapi tetep aja dia mau temenan sama saya dan partneran sama saya. Sampai saat inipun kita masih kontekan lewat fb..curhat masalah keluarga,, masalah cowok.. jiye.. ahaha :D  dan setelah pulang pelatihan inipun saya juga jadi mau belajar bahasa inggris. Capek diremehin terus.terus waktu itu ke Malaysia juga, dapet juara dua dari dua peserta. Lho kok bisa? Hehe. Pernah waktu itu ada tes fisik, terus saya nyasar sampe malem karena macet juga, gak bisa pulang. Udah kaya anak ilang. Akhirnya diajak orang naek motor ke kali deres. Untung masih ada orang baik ya.. meskipun menakutkan. Positive thinking sama orang, hasilnya juga akan positive, saya udah buktiin tuh. Udahlah itu terlalu menyakitkan, oke waktunya PON….
Pon Riau 2012. Kontingen saya adalah kontingen selancar yang datang pertama. Kita latihan disana dan nginep dirumah penduduk selama seminggu.otomatis jadi punya keluarga baru lagi dong? Terus seminggu nginep dihotel dan sampai akhirnya kita dapet jatah hotel dari penyelenggaranya. Ketemu pelatih yang dulu, teteplah salaman.. mereka yang udah buat saya disini kok. Tapi mereka dulu pernah bilang.”kenapa lo ada disini? Bukan karena gue, karena Tuhan” tapi kadang omongan gak bisa dibuktikan. Yasudahlah saya juga banyak kekurangannya kok. Saya sama Syadine mulai ngobrol2 lagi, dia sedikit curhat tentang masalahnya dia. Oke sedikit2 sudah mulai terbuka kan? kita ngobrol dilaut.. dan sampai akhirnya dia bilang
“kata mama gue, lu beruntung bisa pindah ke tempat yg baru” saya Cuma tersenyum, inilah jalan Allah. kadang saya kasian sama anak2 seperjungan saya, mereka kerja keras, dicaci maki dan sering menang pula tapi…….
Di PON ini juga banyak banget rintangannya. Sampe ada insiden katanya saya sama Syadine kerja sama buat mencover lawan yg lain, mungkin karena mereka sering melihat kita ngobrol berdua dilaut. Padahal mah yang diomongin apa.. saya sampe dimaki-maki di twitter katanya curang apalah segala macem. Di race kedua terakhir emang saya sempet mengcover lawan  yang jadi lawannya syadine buat dapet emas, tapi bukan karena niat buat bantuin syadine, walaupun point udah gak mungkin ngejar mereka, saya masih maulah finish ke satu atau dua gitu.. karena ada hadiahnya dari provinsi saya yg baru itu kalau bisa finish kesatu. Ya senyumin aja wajar aja kan mereka manusia pastinya bisa marah-marah. Mungkin saat itu Syadine lagi ada masalah,atau memang sudah waktunya roda berputar.  jadi dia yang selalu dapet Emas akhirnya jatuh juga ke Perak. Saya juga sedih, tapi mungkin Allah punya rencana yang lebih indah kok. Kelurga saya dan dia sudah seperti keluarga beneran, keluarganya yang selalu mendukung saya dimana saya sedang terjatuh, dan mereka salah satu perantara Allah yang membuat saya berkecimpung di Selancar ini. Dan hasil saya di PON? Balik lagi ke perunggu.
Perunggu emang nggak semahal emas, nggak seindah perak.. tapi didalam perunggu yang saya dapet, itu berisi pengalaman yang berharga. story on fire, dan pastinya inilah Allah yang maha adil. Mungkin kalau saya dapet emas saya akan lupa, akan sombong atau gak mau belajar lagi, jadi Allah kasih sesuai kebutuhan saya.positive thinking aja. Pelajaran berharga banget. Roda itu berputar.. contohnya saya, perak perunggu perak perunggu, yang dapet emaspun juga pasti pernah jatuh. Yang bilang gue kok nggak kaya-kaya ya? Gue kok miskin terus ya? Gue kok gak menang-menang ya? Belajar dari situ sob. Kalah dan berada dibawah itu penting kok, untuk memotivasi kita, untuk pembelajaran buat kita,supaya berpikir gimana ya caranya bangkit?  inilah alasan Allah kasih miskin dan kaya, kasih menang dan kalah, bisa berubah nggak? Bisa kok. Asal ada yang berubah. Kalo nggak pernah dirubah ya nggak akan ada yang berubah. Kalau dibilang ditempat yang baru nggak ada masalah, nggak juga, semua pasti ada masalah. Gimana kita ngadepinnya aja. Kerja keras salah satu untuk merubah, doa pun juga begitu, yakinlah Allah pasti akan mengabulkan doa kita entah itu kapan. Ataupun mengganti doa kita sesuai kebutuhan kita.dulu saya sempat dibuang karena gak ada prestasi tapi apa ternyata? Bonus PON provinsi saya yg baru itu ternyata lebih besar daripada provinsi  yang membuang saya, subhanallah, inilah jalan Allah, lebih indah dari yang kita bayangkan. Desember 2013 lalu saya pernah ikut seminar, narasumbernya bagus2 banget. Dia bilang “sebenernya ada nggak sih mencintai pekerjaan? Mencintai pekerjaan itu bulshit , yang ada kita mengerjakan pekerjaan dengan baik sampai selesai, lalu kita dibayar” iya emang bener sih kalo menurut saya juga begitu. Cari dimana tempat nyamannya kita, kalau kita nggak nyaman sekeras apapun latihan juga gak bakal ada progressnya, dan harus punya target juga. Saat ini juga saya lagi merintis usaha Es Kul-Kul atau es pisang coklat tapi dengan konsep yang beda dari yang lain, sedikit demi sedikit semoga menjadi bukit, baru buka dirumah aja sih, dan suka ikut pameran atau pasar malem gitu. Saya langsung terjun sendiri diusaha itu sama mama saya juga. Untungnya Alhamdulillah, bisa kredit freezer buat investasi juga.Sekian cerita dari saya. Selanjutnya saya akan cerita lebih detil waktu di kopassus, di batam dll mekasih ya yang udah mau baca. Nggak ada niat buat buka Aib orang, saya sendiri masih banyak banget kekurangan kok. Kalu ada sedikit, ini untuk pembelajaran aja kok. Tengkyu!
latihan..

waktu rambutnya bondol udah kaya apaan tau haha. bersama syadine(tengah) dan ka azizah(jaket biru)

saat pelatihan ISAF

saat Character Building

ini mah bersama anak2 konyol... ahaha