Jumat, 11 Maret 2016

Film Pendek

Film Pendek

Aku sangat ingin belajar tentangnya. Awal mula aku menyukai video adalah kehadiran youtube yang saat itu aku jelajahi untuk hasrat musikku.
Dan pada saat SMA sepupuku memamerkan video dokumenter kelasnya. Keren, kreatif dan haru. Aku baru sadar dengan adanya sesuatu yang diabadikan, ketika sekian lama baru dihadirkan kembali, ada rasa rindu dan tak sangka. Ingin rasanya kembali kemasa itu atau bahkan berpikir "ternyata dulu aku.... "
"Ini kan ketika aku..."

Makanya sejak saat itu aku mulai tertarik dengan video dokumenter dan film pendek. Berusaha belajar membuatnya. Video dokumenter pertamaku pada saat itu adalah ketika aku lulus dari sekolah Ragunan. Itupun aku hanya jadi kameramen, bukan editor.
Pernah aku membuat film pendek dengan sepupuku dan kalau aku menontonnya kembali rasanya aku ingin tertawa seharian.  Tapi ya dari situ aku belajar, melihat kembali, apa yang kurang, apa yang tepat..
Aku sangat suka membuka masa lalu. Aku adalah pengingat suatu moment. Dengan membuka masa lalu, aku bisa belajar banyak.

Kembali ke film pendek. Aku mulai mencari software edit video yang mudah dan bagus dan yang paling sering kudengar adalah Adobe Premiere. But, spesifikasi leptopku yang hanya i3 dan ram 2 gb ternyata belum cukup. Aku cari aman dengan menggunakan VideoPad. Yang sangat standard.

Channel youtube Agung Hapsah dan Chandraliow bermanfaat sekali bagi pembelajaranku di dunia filmmaker. Aku jadi mengerti kamera, teknik pengambilan gambar, lighting, audio, sound effect, visual effect dan lain lain.

Film tanpa suara yang bagus ataupun pengambilan gambarnya yang kasar, filmnya akan terlihat buruk. Aku lebih suka melihat Film yang editingnya bagus (audio,vx dll) tapi acting artisnya agak buruk dibanding melihat acting artisnya yang bagus tapi editingnya buruk. Tidak enak dilihat.

Aku belajar Film Pendek otodidak saja, dari youtube terutama, membuat kuota internet 2 gb untuk 4 hari. Pemborosan.

 Sebenarnya media adalah sesuatu yang tidak paling menunjang pada proses pembelajaranku. Aku tidak punya kamera bagus ataupun laptop yang terinstal software yang diatas standard. Adobe premier, sony vegas, imovie atau adobe after effects. Kalau seperti ini bagaimana aku bisa belajar banyak? Aku tidak punya banyak uang. Mau berkarya tapi hasilnya sangat standard sekali karena memaksakan membuat film pendek dengan kamera hape 13 mp dan sound effect yang seadanya, lagu seadanya dan proses dubbing yang tidak serius ditambah tidak memiliki microphone. Alhasil, suara video ku sangat noise sekali. Sangat tidak enak didengar.

Aku sangat ingin kamera walaupun sepertinya untuk sementara aku kubur targetku untuk membeli kamera bagus.

2 komentar:

  1. lanjutkan hobinya jangan terputus, aku akan selalu dukung , hehhe.....
    good!!

    BalasHapus